Menyandang tas besar
berjalan di trotoar
Tertawa-tawa
dan riang gembira
Tawaku terputus
ketika pasukanmu melewati arus
Diapit mobil-mobil
bersirine yang suaranya memuakkan kepala
Aku dan Parto
terbirit-birit menerjang parit
Sesampainya di depan
gerbang aku tercengang
Awalnya ku kira kamu
setan
Ternyata kamu
jenderal berbintang
Kau jabat hati ciut
mereka dengan lembut
Mengulas senyum dan
menyuarakan angka empat
Mengajari kami
mengeja namamu, Parto
Aku dan parto tertawa ria
Hati berbunga dan beban tanpa rasa
Mengingat Parto pernah berkata
Tentang surga , surganya dunia
Merangkai cita-cita , menyiapkan perkawinan
cinta
Berkemeja , bergaya di kota-kota
Bersepatu , dan menenteng banyak buku
Ah , Parto
Keindahan apa lagi yang
akan kamu tunjukkan
Rumah megahmu
tiba-tiba kau sulap menjadi istana
Kamar tidurku kau
gusur
Karena katamu, aku
akan punya banyak kasur
Harta benda semakin
langka
Karena katamu, kita
semakin kaya
Dan aku percaya
Karena wajah Parto
terpampang di kota-kota
Dan besilang pita
kuning
Parto
Lama kita tak jumpa
Aku tak tahu dimana kamu berada
Mungkin kamu telah lupa
Tentang harapan dan cita-cita
Sehingga yang kau ingat
Hanya bagaimana menggerus hatiku demi uangmu
Mencabik atap rumahku
Membakar kasurku
Melahankan lahanku
Teringat sahabatku, Parto
Tulang belulangnya sabur batu bersimbur baja
Maret 2013
Firda Zulfatudhucha

0 komentar:
Posting Komentar